Sugianto Makmur:  Warga Yang Menolak Lebih Banyak, Kenapa Jalan Nippon dan Takenaka Marelan Mau Diportal

Sugianto Makmur: Warga Yang Menolak Lebih Banyak, Kenapa Jalan Nippon dan Takenaka Marelan Mau Diportal

Share

Medan : Ayomedan.com:  Terkait “pemortalan” Jalan Nippon, Takenaka Lingkungan V dan VI Kelurahan Paya Pasir Kecamatan Medan Marelan, ternyata lebih banyak warga yang menolak.  “Itu yang mendukung pemortalan sebagian besar bukan warga setempat, melainkan warga lingkungan lain, dan paling banyak warga sekitar kurang lebih hanya 2 KK saja,” kata Sopyan, Supiani Sibarani dan M Syanip, perwakilan warga ketika mengadukan nasibnya ke Komisi B DPRD Sumut , Selasa (12/10/2021).

Sopyan mengungkapkan, bahwa akibat polemik pemortalan Jalan Nippon dan Takenaka itu, mengakibatkan mata pencarian dirinya dan hampir semua warga, menjadi terganggu karena tidak ada aktivitas pengangkutan dan bongkar muat yang selama ini menghidupi kami dan warga lainnya.

“Selama ini penghasilan kami dari aktivitas pengangkutan dan pergudangan tersebut, cari makan untuk anak dan istri kami ya dari bongkar muat dipergudangan dan pengangkutan ini. Kalau jalan itu diportal, dari mana pengangkutan dan pergudangan akan berjalan,” kata Sopian memelas.

Hal senada juga disampaikan Supiani br Sibarani, pemilik warung yang menambahkan, selama aktivitas pengangkutan dan pergudangan terganggu maka warung saya tidak laku padahal saya menghidupi anak saya seperti untuk sekolah, makan dan lain sebagainya. “Kalau dibuat pemungutan suara (poling), lebih banyak mana, warga yang menolak pemortalan atau yang mendukung. Saya yakin, lebih banyak warga yang menolak permortalan jalan itu,” tandas Supiani.

Dihadapan Anggota Komisi B DPRD Sumut Sugianto Makmur, Supiani mengungkapkan persoalan pemortalan ini harus segera dituntaskan, karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak. “Jangan karena kepentingan kelompok tertentu, lantas mengabaikan kepentingan orang banyak. Yang bisa mengganggu, bahkan menutup mata pencarian warga,” beber Supiani kembali.

Supiani juga menceritakan, terjadinya pemortalan Jalan Nippon dan Takenaka itu berawal tidak transparannya pembagian uang kutipan yang selama ini sudah terkoordinir dengan baik, untuk masyarakat.

“Ada oknum yang “memainkan” uang kutipan dari sejumlah gudang, untuk kepentingan pribadi bukan lagi untuk kepentingan masyarakat yang selama ini dilakukan. Apalagi ada oknum yang melakukan pungli ditangkap oleh aparat kepolisian, sehingga masalahnya menjadi ruwet. Sebenarnya lalulintas truk pembawa kontainer ke gudang mereka yang melalui Jalan Nippon dan Takenaka tidak ada mengganggu masyarakat,” kata Supiani.

Sementara Tokoh masyarakat Siombak Belakang, yang merupakan wilayah pergudangan M Syanifi menegaskan, bahwa warga menginginkan agar aktivitas pengangkutan dan pergudangan bisa berjalan kembali seperti biasa. Agar roda perekonomian warga setempat berjalan, apalagi di tengah pandemi ini, tentu banyak warga yang susah. ” Jangan sampai pencarian masyarakat hilang hanya gara-gara penolakan segelintir orang saja,” tegas Syanip.

Hal senada juga disampaikan oleh perwakilan Pengusaha Angkutan (Trucking), Endang Wijaya, yang mengungkapkan, bahwa masa tenggang sesuai kesepakatan antara masyarakat, pengusaha dan pihak Muspika Kecamatan, hanya sampai 15 Oktober 2021 mendatang. “Kami ingin berdamai dan usaha kami berjalan seperti semula, dan jangan ada pro dan kontra kembali. Karena, kami sebagai warga juga mencari makan dilokasi tersebut demi anak dan istri kami,” jelas Endang.

Menanggapi hal itu, Sugianto Makmur berjanji, akan berkomunikasi dengan pihak pengambil keputusan agar bisa dicarikan jalan terbaik. “Jangan sampai hanya ulah segelintir orang, usaha yang menghidupi orang banyak jadi terganggu,” ucap Sugianto.

Sugianto mengungkapkan, akan segera menghubungi Polresta Pelabuhan Belawan dan Polsek Labuhan, guna menuntaskan persoalan ini. Dengan tujuan, jangan sampai terjadi keributan akibat masyarakat luar yang memaksa pemasangan portal di jalan masuk Lingkungan V dan VI, Kelurahan Pasir, Kecamatan Medan Marelan.

“Yang membuat saya heran, warga yang menok lebih banyak, kenapa jalan tersebut mau di portal,” pungkasnya. (ams)


Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *