Terungkap Dalam Reses Edward Hutabarat Bahwa Warga Jalan Perkutut Tak Punya Saluran Drainase

Terungkap Dalam Reses Edward Hutabarat Bahwa Warga Jalan Perkutut Tak Punya Saluran Drainase

Share

MEDAN – Warga Jalan Perkutut Gang Masjid, Kelurahan Helvetia Tengah, Kecamatan Medan Helvetia mengeluhkan kondisi lingkungan tempat tinggalnya. Pasalnya hingga saat ini gang tersebut belum memiliki saluran drainase atau parit.

Kelurahan itu disampaikan Erni, salah seorang warga Gang Masjid pada reses I tahun ketiga TA 2021 anggota DPRD Medan Daerah Pemilihan I, Edward Hutabarat di Jalan Perkutut Medan, Sabtu (18/12/2021).

Menurut Erni, sejak lahir hingga saat ini gang tempat tinggalnya itu tak pernah dibuat parit. Akibatnya, saat hujan turun mereka terus kebanjiran. “Hujan sedikit saja, pasti banjir. Apalagi kalau hujan deras, tinggi air mencapai selutut orang dewasa,” ujarnya.

Tak tahan dengan kondisi tersebut, ujar Erni, mereka pernah sepakat untuk patungan membuat sendiri parit agar tidak lagi kebanjiran. Tapi akhirnya terkendala karena dengan dana swadaya tersebut tak bisa mengatasi banjir.

“Soalnya di belakang gang terkendala dengan rel kereta api yang kondisi lahannya lebih tinggi. Sedangkan parit di Jalan Perkutut di depan gang juga dipastikan tidak akan mampu menampung air saat hujan deras turu, karena kondisinya juga sangat memprihatinkan. Untuk itu kami mohonlah Pemko Medan memperhatikan nasib kami,” harapnya.

Hal sama diutarakan Simarmata. Pria disabilitas ini mengaku, sebelumnya pada reses anggota DPRD Medan hal itu juga sudah pernah disampaikannya. Namun hingga kini tak pernah terealisasi.

“Sudah pernah saya sampaikan pada reses anggota dewan lain sebelumnya. Beliau janji, tapi tak pernah terealisasi. Ternyata janjinya hanya modus alias modal dusta,” ujarnya disambut tawa riuh puluhan warga yang mengikuti reses.

Simarmata juga mengeluhkan pelaku usaha di Jalan Kapten Muslim Medan yang seenaknya menggunakan trotoar dan badan jalan untuk kepentingan bisnisnya. “Ada usaha ayam penyet yang memanfaatkan trotoar dan badan jalan agar pelanggannya nyaman untuk memarkir kendaraan. Selain menyebabkan kemacetan, hal ini juga menyulitkan saya sebagai penyandang disabilitas,” ujarnya.

Sementara itu Selamat Situmorang juga warga Jalan Perkutut memohon agar pohon randu (kapuk) yang sudah tua segera ditebang, karena dapat mengancam keselamatan warga.

“Pohon itu sudah tua dan lapuk. Mohon segera ditebang, karena dapat mengancam keselamatan warga. Biasanya pohon kapuk yang sudah tua, batangnya keropos, sehingga rentan tumbang jika ada angin kencang dan dapat menimpa rumah warga,” ujarnya.

Sedangkan A Simarmata mengeluhkan kondisi trotoar di sepajang Jalan Perkutut yang sudah mulai kupak-kapik. Dia minta Pemko Medan segera diperbaiki.

Selain itu, A Simarmata juga memuji program Walikota Medan Bobby Nasution yang mulai melakukan pengecoran di setiap gang. Namun, program tersebut belum menyentuh gang-gang di Jalan Perkutut Medan. “Saya minta agar gang-gang di Jalan Perkutut ini juga dicor,” pintanya.

Simarmata juga mengeluhkan kondisi di Jalan Gaperta Ujung yang berlubang-lubang dan tiang listrik yang letaknya di badan jalan sehingga sangat menggantu arus lalulintas dan menyebabkan kemacetan.

Eduard Hutabarat mengucapkan terima kasih atas masukan dari warga terkait kondisi di lingkungan masing-masing. Reses ini, ujar Eduard, bertujuan menampung aspirasi warga untuk dibawa pada sidang paripurna reses.

“Aspirasi warga ini nantinya akan kita bawa dan perjuangkan dalam rapat paripurna reses DPRD Medan, sebagai rujukan untuk menetapkan arah pembangunan Kota Medan yang anggarannya ditampung pada APBD Kota Medan,” ujarnya. (ams-Red)


Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *